Kita memang harus merasa bangga hidup di negara
bahari Indonesia tercinta ini, rupanya banyak sejarah luar biasa yang
mengisahkan bagaimana taguhnya kita menjaga laut. Nah ini sedikit kisah bahari
dimasa Majapahit.
Perbandingan besar kapal jong java |
Kapal Majapahit Besarnya 3 Kali Kapal Cheng Ho.
Catatan tentang kapal Cheng
Ho yang selama ini berasal dari catatan Cina ternyata tidak akurat. Penulisan
sejarah adalah bagian dari perang asimetris sehingga beberapa peradaban di
dunia membesarkan data-data sejarahnya. Riset yang dilakukan oleh Irawan Djoko
Nugroho lewat berebagi referensi membuktikan bahwa kapal-kapal Majapahit jauh
lebih besar dari kapal Cheng Ho. Inilah analisa dari Irawan Djoko Nugroho. Dan
juga terdapat analisa tentang riset kapal raksasa yang ditemukan di Gunung
Arafat Turki yang ternyata dibuat dengan kayu Jati. Dan pohon Jati hingga
sekarang hanya ditemukan di Jawa.
Jong adalah sebuah kata Jawa Kuno yang berarti
sebangsa perahu (P.J. Zoetmulder, 1995: 427). Dalam khazanah Melayu, kata Jong
disebut juga dengan istilah Jung (SM.V: 47 dan SM. X: 77). Menurut khazanah
Melayu pula, Jong adalah kapal yang hanya dimiliki oleh Jawa (HRRP: 95, HHT:
XII: 228). Keterangan ini sangat berbeda dengan keterangan sejarawan Eropa
umumnya. Mereka menyebut kapal-kapal Cina juga dengan istilah jung. Para
sejarawan Eropa dan nasional menengarai kapal-kapal Majapahit dalam beberapa
penelitian, menggunakan cadik sebagaimana kapal Borobudur.
Di dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung
disebutkan bila pada abad ke-15 hingga ke-16 kapal Jung tidak hanya digunakan
pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar
jenis ini. Keterangan itu tidak sepenuhnya tepat. Para pelaut Melayu
menggunakan kapal Jung dicatat dalam Hikayat Hang Tuah setelah Putri Raja
Majapahit menikah dengan Sultan Malaka. Kapal yang dimilikinya pun hanya 1.
Kapal yang digunakan pelaut Melayu adalah kapal Ghali atau Galleon. Sedangkan
kapal yang digunakan pelaut Cina dalam catatan Melayu baik Sejarah Melayu dan
Hikayat Banjar adalah Pilu dan Wangkang.
Menurut catatan para penulis Portugis, Jong disebut
dengan Junco. Sedangkan para penulis Italia menyebut dengan istilah zonchi.
Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan
de Marignolli (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung).
Secara umum, kapal Junco merupakan sebuah kapal
yang memiliki 4 tiang. Kapal Junco memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan
jenis-jenis kapal Portugis umumnya. Dinding Jong terbuat dari 4 lapis papan
tebal, (Paul Michel Munoz, 2009: 396-397). Kapal Jong juga memiliki dua dayung
kemudi besar di kedua buritan kapal. Kedua dayung kemudi itu hanya bisa
dihancurkan dengan meriam. Dinding Jong mampu menahan tembakan meriam
kapal-kapal Portugis yang mengepungnya dalam jarak yang sangat dekat, (Robert
Dick-Reid, 2008: 69).
Dimensi Jong Jawa
Ukuran Jong menurut catatan Tome Pires dan Gaspar
Correia sangat besar. Menurut Tome Pires, kapal Jong tidak dapat merapat ke
dermaga karena besarnya. Perlu ada kapal kecil yang diperlukan untuk memuat
atau membongkar muatannya. Menurut Gaspar Correia, Jong memiliki ukuran
melebihi kapal Flor de La Mar, kapal Portugis yang tertinggi dan terbesar tahun
1511-1512. Menurut Gaspar Correia pula, bagian belakang kapal Flor de La Mar
yang sangat tinggi, tidak dapat mencapai jembatan kapal yang berada dibawah
geladak kapal Junco.
Saat menyerang Malaka, Portugis dicatat menggunakan
40 buah kapal menurut Hikayat Hang Tuah, atau 43 buah kapal menurut Sejarah
Melayu. Setiap kapal mampu mengangkut 500 pasukan dan 50 buah meriam. Dengan
demikian saat menyerang Malaka Portugis mengerahkan pasukan sebanyak 20.000 –
21.500 pasukan. Kapal Flor de La Mar dicatat memiliki ukuran di atas
kapal-kapal itu.
Menurut Irawan Djoko Nugroho, kapal Junco
memiliki ukuran panjang, lebar dan tinggi 4-5 kali kapal Flor de la Mar. Dengan
kata lain panjang Junco Jawa adalah 313,2 m – 391,5 m. Hal ini karena
kapal Flor de La Mar diperkirakan memiliki panjang 78,30 m dan kapal-kapal yang
menyerang Malaka menurut Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu memiliki ukuran
panjang 69 meter, (Irawan Djoko Nugroho, 2011: 304-307).
Kapal Jong atau Jung atau Junco merupakan kapal
kayu operasional terbesar dunia hingga abad ke 20 awal, bahkan hingga saat ini.
Kapal terbesar Amerika Serikat pada abad ke-19 bernama Great Republik pun hanya
mampu dibuat sepanjang 100,5 m (John R. Hale, 1984: 86). Tehnologi kapal ini
hingga kini menjadi misteri. Seperti misalnya: tehnik sambung seperti apa yang
digunakan sehingga kapal Jong tahan akan tembakan meriam. Selain itu, bahan apa
yang digunakan untuk merapatkan kayu sehingga kapal Jong aman dari merembesnya
air. Juga seperti apa operational maintenance kapal Jong itu karena sifat kapal
yang dapat di knock down.
Fungsi Jong Jawa
Kapal Jong Jawa adalah kapal dagang dan dapat
digunakan sebagai kapal angkut militer. Kapal ini merupakan kapal utama
pengangkut perdagangan hingga abad ke-16. Menurut catatan Duarte Barosa, kapal
Jong Jawa ini membawa barang perdagangan seluruh Asia Tenggara dan Asia Timur
untuk diperdagangkan hingga ke Asia Barat (Arab). Dari Arab, barang dagangan
tersebut disebarkan ke Eropa, ((Paul Michel Munoz, 2009: 396-397).
Rute perdagangan ke Asia Barat yang dilalui Jong
Jawa menurut Duarte Barosa adalah Tenasserim, Pegu, Bengal, Palicat,
Coromandel, Malabar, Cambay, dan Aden, (Paul Michel Munoz, 2009: 396-397).
Barang dagangan yang dibawa Jong Jawa menurut Duarte Barosa pula, diantaranya
adalah: beras, daging sapi, kambing, babi, dan menjangan yang dikeringkan dan
diasinkan, ayam, bawang putih, dan bawang merah, senjata seperti tombak,
belati, dan pedang-pedang yang dibuat dari campuran logam dan terbuat dari baja
yang sangat bagus, pewarna kuning atau cazumba (Kasumba), emas, lada, sutra,
kemenyan, kamper serta kayu gaharu.
Dalam Sejarah Dinasti Ming Kapal Pusaka, Kapal yang
dinaiki Cheng Ho dicatat memiliki panjang 138 meter dan lebarnya sekitar 56
meter (http://muslimdaily.net/artikel/home/laks…lcNL-Jko). Jika dibandingkan
dengan kapal Jong Jawa, kapal Pusaka Cheng Ho tidak ada apa-apanya. Kapal Jong
Jawa 2,2-2,8 kali lebih besar dari Kapal Pusaka Cheng Ho. Kapal Pusaka Cheng Ho
pun hanya 1 buah. Sedangkan Kapal Jong Jawa yang dimiliki Majapahit sebanyak
400 buah.
Berbeda dengan Kapal Pusaka Cheng Ho yang hilang
sebelum kedatangan Portugis, Kapal Jong Jawa tetap berlayar hingga Jaman
Portugis. Hilangnya Kapal Jong Jawa karena politik Isolasi Diri masa Mataram.
Meluruskan Catatan Diego de Couto
Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645
mengatakan sebagai berikut.
“Orang Jawa adalah orang-orang yang sangat
berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis seni
paling kuno ini, walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Cina lebih berhak
atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka
kepada orang Jawa. Tetapi yang pasti adalah orang Jawa yang dahulu berlayar ke
Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar, dimana sekarang banyak
dijumpai penduduk asli Madagaskar yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan
orang Jawa”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung).
ernyataan Diego de Couto itu menarik. Namun
demikian pernyataan “walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Cina lebih
berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari
mereka kepada orang Jawa”, sangat menyesatkan.
Hal ini karena tehnologi kapal Cina demikian
terbelakang. Ketika menyerang Jawa pada akhir abad ke 13, Kubhilai Khan yang
mengerahkan pelaut-pelaut Cina hanya memiliki kapal kapasitas 30 penumpang.
Kapal ini sangat kecil dibanding dengan kapal yang dimiliki Jawa abad ke-3.
Pada abad ke-3, kapal Jawa telah memiliki kapal dengan kapasitas 500 orang
dengan ukuran kapal 61 m.
Ketika Cheng Ho di abad ke-15 melaut dengan kapal
sepanjang 136 m, Kapal Jong Jawa milik Majapahit telah jauh lebih besar dan
lebih banyak. Kurang lebih 2,2-2,8 kali lipat lebih besar dan 400 buah lebih
banyak dari Kapal Pusaka Cheng Ho.*
Acuan
Armando
Cortesao The Suma Oriental of Tome Pires. London, Hakluyt Society: 1944.
Irawan Djoko Nugroho Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti, 2012.
John R. Hale Abad Penjelajahan. Jakarta: Tira Pustaka, 1984.
Kasim Ahmad, M.A Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964
Paul Michel Munoz Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.
Robert Dick-Read Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.
Sitor Situmorang dan A. Teeuw Sejarah Melayu. Djakarta/Amsterdam: Penerbit Djambatan.
Zoetmulder, P.J. Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.
Irawan Djoko Nugroho Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti, 2012.
John R. Hale Abad Penjelajahan. Jakarta: Tira Pustaka, 1984.
Kasim Ahmad, M.A Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964
Paul Michel Munoz Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.
Robert Dick-Read Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.
Sitor Situmorang dan A. Teeuw Sejarah Melayu. Djakarta/Amsterdam: Penerbit Djambatan.
Zoetmulder, P.J. Kamus Jawa Kuno-Indonesia. Vol. I-II. Terjemahan Darusuprapto-Sumarti Suprayitno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995.
Gambar Kapal Jung Jawa Abad
Ke-16, Gambar Yang Menyesatkan
Gambar kapal Jung Jawa pada abad ke-16 merupakan
gambar yang banyak menjadi rujukan buku-buku sejarah terkait maritim Indonesia.
Sebut saja misalnya buku:
1.
Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Pedagangan
Global Jilid 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011.
2. A.M.
Djuliati Suroyo, dkk, Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari
Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007.
3. Robert
Dick-Read, Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung:
PT Mizan Pustaka, 2008.
Sayangnya gambar kapal jung Jawa pada abad ke-16
yang menjadi rujukan buku-buku sejarah terkait maritim Indonesia tersebut
merupakan gambar yang yang penuh kontroversi. Gambar itu secara umum
menunjukkan sebuah kapal dimana di dalam kapal tersebut terdapat sebuah rumah
dan ada orang yang duduk mengendalikan dayung dibagian belakangnya. Gambar
kapal tersebut menurut Robert Dick-Read dibuat oleh Horridge (Robert Dick-Read,
2008: 69). Namun oleh Anthony Reid gambar itu dilukiskan oleh ekpedisi Belanda
yang pertama (Anthony Reid, 2011: 50). Anthony Reid tidak menyebut pembuatnya.
Kontroversi gambar yang dilukis oleh Horridge
ternyata tidak sama dengan catatan Portugis terkait kapal Jung Jawa seperti
uraian Duarte Barosa dan Gaspar Correia. Bahkan cenderung berbeda.
Kapal Jung Jawa menurut Duarte Barosa, (Paul Michel
Munoz, 2009: 396-397).
Datang pula di sini banyak kapal dari Jawa, yang
memiliki empat tiang layar, sangat berbeda dari kapal-kapal kami, dan terbuat
dari kayu yang sangat tebal. Saat kapal itu menua, mereka memperbaikinya dengan
papan-papan baru dan dalam gaya seperti ini, mereka memiliki empat papan
penutup, saling tumpuk; layarnya terbuat dari osier, talinya pun terbuat dari
bahan yang sama.
Kapal Jung Jawa menurut Gaspar Correia, (Robert
Dick-Read, 2008: 69-70).
“Karena junco itu memulai serangan, sang Gubernur
mendekatinya bersama seluruh armadanya. Kapal-kapal Portugis mulai menembaki
junco, tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Lalu junco berlayar pergi ….
Kapal-kapal Portugis lalu menembaki tiang-tiang junco …. dan layarnya
berjatuhan. Karena sangat tinggi, orang-orang kami tidak berani menaikinya, dan
tembakan kami tidak merusaknya sedikit pun karena junco memiliki empat lapis
papan. Meriam terbesar kami hanya mampu menembus tak lebih dari dua lapis
…Melihat hal itu, sang Gubernur memerintahkan nau-nya untuk datang ke samping
junco. (Kapal Portugis) ini adalah Flor de la Mar, kapal Portugis yang
tertinggi. Dan ketika berusaha untuk menaiki junco, bagian belakang kapal
hampir tak dapat mencapai jembatannya. Awak Junco mempertahankan diri dengan
baik sehingga kapal Portugis terpaksa berlayar menjauhi kapal itu lagi.
(Setelah pertempuran selama dua hari dua malam) sang Gubernur memutuskan untuk
mematahkan dua buah dayung yang ada diluar kapal. Setelah itu barulah junco itu
menyerah.
Gambar Kapal Jung Jawa Abad Ke-16, (Robert
Dick-Read, 2008: 69).
Perbandingan Bentuk Kapal Jung Jawa Versi Horridge
Dengan Catatan Portugis
Dibandingkan diskripsi Duarte Barosa dan Gaspar
Correia diatas dengan gambar kapal Jung buatan Horridge, kedua kapal jung
tersebut memiliki perbedaan. Perbedaaan itu adalah sebagai berikut.
1. Kapal
Jung Jawa versi diskripsi Duarte Barosa memiliki empat tiang layar, bukan 2
tiang layar sebagaimana gambar Horridge.
2.
Kapal Jung Jawa sangat besar karena Flor de la Mar, kapal Portugis yang
tertinggi bagian belakang kapal hampir tak dapat mencapai jembatannya. Istilah
jembatan junco adalah sebuah wilayah di depan geladak belakang. Bila dilihat
dari sisi kapal, jembatan junco dapat juga berarti sayap jembatan yang menempel
keluar di samping, sehingga seperti berdiri di sebuah jembatan. Jembatan junco
yang ada disisi kapal letaknya lebih rendah dari dek kapal. Menurut Irawan,
kapal Junco Jawa itu memiliki besar 313,2-391,5 meter, (Irawan, 2011: 307).
Karena itu gambar orang diatas dua buah dayung versi gambar Horridge menjadi
sangat rancu. Mengingat gambar orang tersebut dibanding kapal Jung Jawa menjadi
sangat besar. Gambar orang tersebut dapat dikatakan sebagai gambar seorang
raksasa.
3.
Kapal Jung Jawa versi diskripsi Duarte Barosa dan Gaspar Correia tidak
dikisahkan memiliki rumah-rumahan seperti gambar Horridge.
4.
Menurut Gaspar Correia, kapal Jung Jawa tidak ada bagian kerangka diatas
jembatan kapal. Sehingga meriam terbesar Portugis tidak diarahkan padanya
sebagai bagian yang lemah. Namun diarahkan pada tiang-tiang kapal yang tinggi.
5.
Menurut Gaspar Correia, dilengkapi oleh meriam. Hal ini karena ia dicatat
menembak iringan kapal Portugis terlebih dahulu. Dalam gambar versi Horridge,
meriam tidak dicantumkan.
6.
Menurut Robert Dick-Read, kapal Jung dikendalikan dengan kemudi berporos yang
ditempatkan di buritan (Robert Dick-Read, 2008: 68), sedangkan kapal Jung versi
Horridge hanya dikendalikan dengan dua dayung kecil.
Kapal Jung Jawa Versi Horridge, Versi Lain Kapal
Borobudur?
Dari perbandingan tersebut, kapal Jung Jawa versi
Horridge dapat dikatakan sangat berbeda dengan kapal Jung. Menjadi pertanyaan
kemudian, penjelasan kapal Jung Jawa versi Horridge berdasar pada apa? Bila
melihat gambar kapal Jung Jawa versi Horridge, maka gambar kapal Jung itu dapat
dikatakan berdasar gambar kapal Borobudur dan kapal Jung versi diskripsi Gaspar
Correia.
Kapal Borobudur, (Robert Dick-Read, 2008: 316).
Berikut persamaan gambar kapal Jung versi Horridge
dengan gambar kapal Borobudur dan kapal Jung versi diskripsi Gaspar Correia.
1. Kapal
Jung versi Horridge memiliki rumah-rumahan di kapal sebagaimana kapal
Borobudur. Hanya saja dalam versi lebih panjang.
2. Kapal Jung versi Horridge
memiliki dayung di kedua sisi kapal sebagaimana kapal Jung versi diskripsi
Gaspar Correia.
3. Dayung di kedua sisi kapal Jung
versi Horridge lebih bersifat aksesoris daripada dayung di kedua sisi kapal
sebagaimana kapal Jung versi diskripsi Gaspar Correia karena terlalu kecil.
Dayung di kedua sisi kapal Jung versi Horridge tidak menunjukkan memiliki peran
vital. Sehingga ketika dayung dipatahkan tidak akan berpengaruh pada gerak
kapal.
4. Layar kapal Jung versi Horridge
juga mirip layar kapal Borobudur.
5. Kapal Borobudur memiliki kesan
memiliki kemudi berporos yang ditempatkan di buritan. Kapal Jung versi Horridge
tidak.
Kapal Jung Jawa Versi Horridge Sebagai
Penyederhanaan Kapal Jung
Melihat kembali gambar kapal Jung Jawa versi
Horridge, maka kapal ini dapat dikatakan sangat tidak tepat disebut kapal Jung
Jawa. Banyak dari bagian kapal Jung yang tidak masuk dalam gambar. Misalnya
tiang kapal seharusnya empat atau adanya kemudi yang berporos di buritan.
Karena itu kesan pertama gambar kapal Jung Jawa versi Horridge adalah
penyederhanaan kapal Jung Jawa. Mungkinkah gambar kapal Jung Jawa ini untuk
memberi kesan bila kapal Jung Jawa memiliki tehnologi terbelakang dari kapal
Eropa dan hanya merupakan bagian metamorphosis kapal Eropa yaitu galleon?
Kesan ini tampak ditangkap oleh Andrian B. Lapian.
Sejarawan yang mendapat gelar Nahkoda Sejarah Maritim Indonesia mencatat
sebagai berikut.
Selain itu ada juga indikasi bahwa mereka membantu
sebagai arsitek kapal, seperti yang diberitakan oleh van Linschoten pada akhir
abad ke-16. Menurut catatannya, di daerah selat Malaka ada beberapa orang
Portugis yang telah “berkhianat” dan menawarkan jasa-jasanya kepada raja-raja
pribumi dan mengajarkan teknik membuat kapal jenis Eropa (“ende die van Malacca
ende Indien hadden veel Galleyen inde engdevan Malacca, die hem sommighe
verloochende Chritenan [die nieuwers en ghebreken] hadde leeren maken: waermede
zy groot quaet down, ende dagheliks doet …”). Sementara itu, nama galai atau
gale dan sebagainya berasal dari bahasa-bahasa Eropa dan sekarang sudah masuk
dalam perbendaharaan kata Indonesia, (Andrian B. Lapian, 2008:28).
Andrian B. Lapian terlihat terlalu antusias menari
dalam genderang sejarawan maritim barat.
Dalam Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Banjar, galai
atau gale yang masuk dalam perbendaharaan kata Eropa menjadi galleon berasal
dari kapal asli Melayu, yaitu ghali. Bukan sebaliknya. Kapal Mendam Berahi
Malaka yang dibuat untuk melamar Putri Majapahit adalah kapal tipe ghali, (Ada
pun yang sudah datang itu tujoh buah; ada ia berlaboh di-kuala kita ini. Ada
pun yang sa-buah ghali itu terlalu besar dengan perbuatan-nya terlalu
indah-indah perbuatan-nya, saperti kenaikan raja-raja meminang. HHT. V:97).
Demikian pula kapal yang digunakan Lambu Mangkurat untuk melamar anak angkat
Raja Majapahit juga kapal tipe ghali, (HB. 6.1). Hal sama tipe kapal Portugis
untuk menyerang Malaka adalah kapal tipe ghali. Maka kata Feringgi itu, “Kami
sakalian ini hendak menyerang Melaka di-titahkan oleh Sultan Portugal dengan
empat puloh buah ghali, dan pada sa-buah ghali itu orang-nya lima ratus dan
lima puloh meriam-nya. (HHT. XXIV:429). Karena kapal ghali digunakan lebih dulu
oleh Malaka dan Banjar, maka ghali adalah kapal asli Nusantara. Terlebih
pengetahuan kapal Eropa masih baru. Ketika tiba di Asia, kapal perintis
Portugis sangat kecil dan merupakan kapal eks tehnologi Cordoba. Ketika mereka
kemudian tiba-tiba membesar, dan menggunakan tehnologi galleon maka dapat
dikatakan bila kapal Eropa mengadopsi kapal asli Melayu dan menstadarisasinya
dengan menghilangkan tipe kapal lainnya yang berkembang di Nusantara saat itu.
Menjadi pertanyaan menggelitik kemudian, apakah
gelar Nahkoda Sejarah Maritim Indonesia karena seseorang dapat menari dalam
genderang sejarawan maritim barat. Dan bukan meluruskan teori yang sangat tidak
tepat tersebut?
Bila melihat informasi kapal Jung Jawa versi Gaspar
Correia secara lebih jauh, maka kapal Jung Jawa dapat dikatakan merupakan kapal
kayu dengan tehnologi paling modern di jamannya. Hal ini karena kapal Jung Jawa
memiliki tehnologi anti meriam terbesar Portugis. Dan secara sendirian
menghadapi sekuadron kapal Portugis. Menurut Hikayat Hang Tuah, sekuadron kapal
Portugis itu terdiri dari 40 kapal dengan setiap kapal berprajurit 500 orang
(total 20.000 prajurit). Sedangkan menurut Sejarah Melayu, sekuadron kapal
Portugis itu terdiri dari 43 kapal dengan setiap kapal berprajurit 500 orang
(total 21.500 prajurit).
Sekalipun kalah, kekalahan kapal Jung Jawa bukan
karena tehnologinya, terbukti kapal tidak tenggelam dikeroyok kapal Portugis
sebanyak 40 buah selama 2 hari dua malam. Kekalahan itu lebih dikarenakan
kapten Jung itu melakukan tindakan diluar prosedur resmi, yaitu menyerang kapal
sendirian tanpa menggunakan skuadron kapal lain sebagai pendukung, (Irawan,
2011: 309). Terlebih kapal Jung hanya merupakan kapal operasional yang
mengangkut komuditas perdagangan dan kapal angkut militer semata, (Irawan,
2011: 309).
Sumber:
1. A.M.
Djuliati Suroyo, dkk, Sejarah Maritim Indonesia 1: Menelusuri Jiwa Bahari
Bangsa Indonesia Hingga Abad Ke-17. Semarang: Penerbit Jeda, 2007.
2.
Andrian B. Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17,
Jakarta, Komunitas Bambu, 2008.
3.
Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Pedagangan
Global Jilid 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2011.
4. Irawan
Djoko Nugroho,
5. Robert
Dick-Read, Penjelajah Bahari. Pengaruh Peadaban Nusantara di Afrika. Bandung:
PT Mizan Pustaka, 2008.
6. Paul
Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung
Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.
7. Kasim
Ahmad, M.A, Hikayat Hang Tuah. Menurut Naskhah Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Kuala Lumpur, 1964.
8.
Shellabear, WG., Sejarah Melayu [The Malay Annals]. Singapura: Malaya
Publishing House Limited, 1978.
Sumber
dari candi.web.id